Pengetahuan Dasar Bertanam Dengan Hidroponik
10 Mei 2022 1:21 pm

Pengetahuan Dasar Bertanam Dengan Hidroponik

Pengetahuan Dasar Bertanam Dengan Hidroponik
Pengertian hidroponik bisa kita pahami sebagai suatu kegiatan pengelolaan air untuk dijadikan media tumbuh tanaman pengganti tanah. Trend urban farming, dimana masyarakat perkotaan yang ingin mencukupi kebutuhan sayuran dengan cara berkebun terkendala oleh sempitnya lahan.
Dalam sejarahnya hidroponik sudah dilakukan berabad abad lalu oleh bangsa babylonia dengan taman gantungya.

Keunggulan Hidroponik
  • Kebutuhan lahan yang minim
  • Kebutan air sangat effisien dan biaya rendah
  • Kebutuhan pupuk yang relatif sedikit dan effisien
  • Tidak mencemari lingkungan
  • Hama dan penyakit lebih mudah untuk dikendalikan
  • Proses pemanenan mudah
  • Sehat karena tidak ada penyemprotan pestisida
  • Stabil dan hasilnya tinggi.

Kelemahan Hidroponik
  • Biaya instalasi awal lumayan tinggi
  • Dibutuhkan ketelitian dan keahlian tinggi
  • Dibutuhkan nutrisi dengan takaran atau formulasi tertentu
  • Resiko penyakit yang cepat menyebar melalui sistem sirkulasi air
  • Persaingan dengan petani tradisional pada produk sejenis dengan harga yang lebih murah

Ada 6 jenis sistem hidroponik yang sering digunakan:

1. Sistem Drip
Sistem drip ini menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke tanaman melalui selang irigasi dengan menggunakan dripper yang dapat diatur waktunya dengan timer. Media tanam yang cocok untuk drip sistem yaitu batu apung, zeolit, sekam bakar, dan sabut kelapa yang berfungsi untuk tempat akar berkembang. Sistem ini lebih popular digunakan untuk menanam sayuran dan buah-buahan.




2. Sistem Wick

Sistem Wick adalah sistem yang paling sederhana dan paling dari ke 6 dasar sistem hidroponik. Ini adalah sistem pasif, yang berarti tidak ada bagian yang bergerak. Larutan nutrisi ditarik ke dalam media tumbuh dari wadah nutrisi dengan sumbu, biasanya sumbu menggunakan kain flannel atau jenis bahan lain yang mudah menyerap air. Sistem wick biasanya menggunakan media tanam seperti Rockwool, Perlite, Vermiculite, batu kerikil, hydroton, sekam bakar, dan cocopeat. Paket lengkap wick sistem bisa didapatkan disini.




3. Sistem Rakit Apung (Water Culture)

Sesuai dengan namanya, cara menanam di Sistem ini cukup mudah. Tanaman akan diletakkan di atas styrofoam yang sudah dibolongi dan nantinya akan mengapung di atas larutan nutrisi.




4. Sistem Pasang Surut (Eeb And Flow)

Sistem ini membutuhkan pompa air yang diatur menggunakan timmer. Sistem ini akan membanjiri wadah penampung yang berisi tanaman dengan air yang bernutrisi selama periode tertentu. Proses pembanjiran ini akan terjadi apabila pompa air menyala, jika mati maka akan terjadi penyurutan. Sebab itu, pompa air memiliki peran yang sangat penting dari sistem pasang surut ini.




5. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

Sistem ini menempatkan tanaman pada aliran nutrisi yang cukup dangkal, sehingga akar tak terendam sepenuhnya. Meskipun demikian, nutrisi dan oksigen yang akan didapatkan oleh tanaman akan sangat optimal. Paket lengkap instalasi sistem NFT bisa didapatkan disini.




6. Sistem Aeroponik

Tanaman diletakkan pada sebuah wadah tertentu. Khususnya bagian akar dan pangkal batang yang berada di dalam wadah tersebut. Sedangkan bagian tanaman lain seperti batang bagian atas dan juga daun dibiarkan berada di ruang terbuka. Wadah harus dijaga kelembapannya. Dalam waktu tertentu tanaman akan disemprot dengan air serta nutrisi yang bentuknya sudah diubah menjadi seperti uap atau kabut.



Kebutuhan Dasar Tanaman Hidroponik :

1. Air

Kualitas air dapat menjadi masalah serius pada sistem hidroponik. Jika air yang ada di sekitar anda berkualitas buruk, bisa ditangani dengan filterisasi, aerasi dan lain-lainnya untuk mengkompensasi kadar garam dan kandungan lain dalam air. Ketika media tanam berkurang kadar kelembapannya dan tanaman kekurangan pasokan air bisa menyebabkan akar tanaman mengering bahkan beberapa akan mati. Meskipun kemudian tanaman digenangi air dan kelembapan dinormalkan kembali, butuh waktu lama bagi tanaman untuk pulih ke kondisi prima. Hal ini akan berakibat produktifitas tanaman tidak bisa maksimal. Untuk mengukur ph air bisa menggunakan ph meter.

2. Oksigen

Selain digunakan untuk respirasi, oksigen juga dibutuhkan tanaman dalam sistem perakarannya. Pada media tanah umumnya kebutuhan oksigen sudah tersedia, namun pada tanaman hidroponik, pasokan oksigen dalam air akan cepat terkuras dan dapat berkurang drastis saat suhu air terlalu tinggi. Akar akan menjadi rusak atau mati ketika kebutuhan oksigen tidak tersedia.Oleh karena itu pada tanaman hodroponik dibutuhkan campur tangan manusia untuk memastikan ketersediaan kebutuhan oksigen pada tanaman. Umumnya untuk memasok oksigen pada tanaman hidroponik adalah melalui gelembung udara dalam larutan nutrisi. Tetapi untuk beberapa sistem hidroponik seperti NFT system, aeroponik, atau sistem alir kontinu tidak diperlukan.

3. Cahaya

Sebagian besar jenis tanaman sayuran daun, buah dan juga bunga memerlukan sekurangnya 8 sampai 10 jam sinar matahari langsung setiap hari untuk menghasilkan kualitas tanaman yang baik.Tetapi ada juga beberapa jenis tanaman yang justru mengalami masalah dengan terik panas matahari. Untuk mengatasi hal ini bisa disiasati dengan mengurangi intensitas panas matahari dengan bantuan kain putih, jaring, atau plastik UV. Untuk memastikan semua tanaman cukup terpapar sinar matahari, atur jarak yang cukup antar tanaman. Usahakan jangan terlalu rapat agar pertumbuhan tanaman bisa melebar ke samping. Sedangkan untuk mensiasati cuaca mendung/musim penghujan sebaiknya ppm / EC larutan nutrisi hidroponik di tingkatkan.

4. Suhu

Tanaman akan dapat tumbuh dengan baik pada rentang suhu tertentu. Suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman akan terganggu. Umumnya untuk sebagian besar tanaman sayuran hidroponik membutuhkan suhu ideal antara 23° C – 26° C. Jika memang anda hendak serius bertanam jangan abaikan hal ini. Membeli alat pengukur suhu ruangan adalah solusinya.

5. Nutrisi

Tanaman memerlukan mineral tertentu untuk dapat bertahan hidup yang dipasok melalui akar. Dalam pertanian umumnya mineral ini disediakan oleh tanah dan dengan penambahan pupuk seperti pupuk kandang, kompos, pupuk anorganik dan garam2 mineral lainnya.
Dalam sistem hidroponik unsur-unsur penting yang dibutuhkan tanaman ini di buat dari garam2 mineral yang telah dimurnikan sehingga larut dalam air dan di ukur keseimbangannya. Nutrisi mineral yang dibutuhkan dalam jumlah besar contohnya adalah nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur. Sedangkan unsur-unsur mikronutrien seperti besi, mangan, boron, seng, tembaga, molibdenum, dan klorin juga dibutuhkan tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Untuk nutrisi disarankan memakai pupuk Ab mix yang kandungannya sudah sangat memenuhi.

Perawatan Tanaman Hidroponik


Perawatan pada tanaman hidroponik pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan perawatan pada penanaman sistem konvensional, seperti pemangkasan, pembersihan gulma dan lain-lain. Pengaturan dosis dan jenis nutrisi yang diberikan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, misalnya ditemukan kecenderungan kelebihan atau kekurangan unsur tertentu. Untuk sampai pada tahap mengenali ini, anda tidak cukup dengan hanya membaca-baca literatur, akan tetapi pengalaman, trial and error, kreatifitaslah yang akan menyempurnakan dan membuat tanaman tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan.






Blog Post Lainnya